Senin, 20 Juni 2016
Semangat Kendur ditengah Ramadhan
Ibarat mendaki gunung, hari ini adalah kita sudah di tengah perjalanan menuju puncak. Dakian semakin terjal, batu-batu mulai menajam, dan menakutkan rasanya kalau kaki tiba-tiba tergelincir. Butuh perjuangan agar bisa sampai ke puncak dengan selamat.
Hari ke 15 Ramadhan ini, semangat beribadah kebanyakan orang mulai surut. Lembar-lembar Al-Quran mulai berat dilahap dan kebanyakan orang sudah mulai gagal fokus.
Sudah banyak yang mulai mengarahkan pikirannya untuk cari baju lebaran. Tak anyal, mesjid semakin sepi tapi mall? Tentunya jadi ramai. Bukan cuma itu saja, ibu-ibu tak mau ketinggalan. Resep kue terbaru sudah didapat, tinggal menyiapkan bahan-bahannya saja. Bacaan Al-Quran terabaikan dan pasar jadi sasaran.
Sibuk buat kue dengan resep paling baru dan sibuk cari baju dengan model paling update sampai tujuan ramadhan yang sebenarnya jadi terabaikan. Oh, ramadhan ku..
Hanya orang-orang istiqomahlah yg tetap fight sampai akhir. Tetap konsisten meski malas serasa menjejal diri. Terus memompa semangat agar bisa meraih gelar takwa.
"Dan pakaian takwa itu adalah yang lebih baik", Kata Allah Ta'ala didalam Al-Quran.
Dan yang menang adalah mereka yang hari ied nanti memakai baju takwa. Baju yang diberikan kepada mereka yg berhasil mengolah diri dalam Ramadhan kali ini.
#PenaPeradaban
Selasa, 14 Juni 2016
Sebelum Ramadhan Meninggalkan Kita
"Semoa Allah menerima amal-amal kita,"
Pesan ini akan kamu temui diakhir ramadhan nanti jika Allah memanjangkan umur kita. Namun, dihari itu berapa banyak orang yang akan menyesal karena telah mengabaikan shalat jamaahnya.
Senin, 13 Juni 2016
'Islam yang Dinomorduakan'
Jumat, 10 Juni 2016
Ramadhan Ia Abaikan
Tatkala Allah Ta'ala memberi kita kesempatan yang tak pernah Dia berikan kepada umat-umat sebelumnya, banyak dari kita yang tak peduli...
Ketika Allah jelas-jelas mengatakan bahwa bulan ini Dia mengampuni dosa-dosa, melipatgandakan pahala, membuka pintu surga lebar-lebar, menutup pintu neraka serapat-rapatnya, serta setan-setan pun Dia belenggu, banyak diantara kita yang masih tidak peduli...
Seakan deretan hadits dan juga ayat-ayat yang menjelaskan betapa mulia bulan ini, sama sekali tak memberi kesan lebih sehingga mereka tidak peduli...
"Sekedar rutinitas tahunan saja," Begitu agaknya pikir mereka.
Berpuasa sebulan penuh; menahan diri dari lapar dan haus, hanya menjadi sebuah kewajiban yang cukup dilaksanakan tanpa ada tujuan yang ingin dicapai darinya. Begitu kebanyak cara berfikir kebanyakan dari kita yang sama sekali tak peduli dengan bulan agung ini.
Namun anehnya....
Ketika pusat-pusat perbelanjaan telah mengobral semurah-murahnya dagangan mereka, orang-orang yang tak peduli inilah yang paling pertama datang bertandang memborong semua yang hawa nafsunya inginkan. Dengan iming-iming diskon besar, begitu kuat dorongan hatinya untuk mendatangi tempat dimana ia bisa menghabiskan waktu puasanya dengan berbelanja sana sini. Benar-benar aneh pikirku.
Dan akhirnya...
Ketika hari yang fitri tiba, mereka adalah orang yang terlihat paling bahagia. Mengapa? Karna bulan yang telah mengekang mereka dari makan dan minum telah pergi. "Ini adalah hari kebebasan...." Mungkin itulah hal yang ada dalam benak mereka.
Hari kemenangan bagi mereka, bukanlah kemengan hakiki. Bukan! kemenangan lebih tepat mereka tafsirkan sebagai hari kebebasan. Betul-betul miris.
#PenaPeradaban
Kamis, 14 April 2016
Kenapa Aku Tidak Bisa Melompat Lebih Tinggi?
Seekor belalang lama terkurung dalam satu kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya.
Di perjalanan dia bertemu dengan belalang lain, namun dia heran mengapa belalang itu bisa lompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran dia bertanya,
“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku,padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?” Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan.”
Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.
Sering kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman,tradisi, dan semua itu membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita.
Sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dgn tali yang terikat pada pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada “sesuatu” yang mengikat kaki nya, padahal “sesuatu” itu bisa jadi hanya seutas tali kecil…
Sebagai manusia kita mampu untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin kita capai. Sakit memang, lelah memang,tapi jika kita sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Pada dasarnya, kehidupan kita akan lebih baik kalau kita hidup dengan cara hidup pilihan kita sendiri, bukan dengan cara yang di pilihkan orang lain untuk kita.
#dari sebelah
Jumat, 08 April 2016
Memilih Penjual Parfum atau Pandai Besi?
Mengapa Agama yang mulia ini begitu memperhatikan masalah ini? Jawabannya adalah karena manusia itu cenderung menyesuaikan diri terhadap apa yang ada disekitarnya. Makanya tak heran kalau orang yang berteman dengan orang yang buruk lambat laun akan ikut terbawa oleh keburukan temannya. Begitu juga sebaliknya.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- sendiri telah mewanti-wanti kepada seluruh ummatnya agar berhati-hati dalam memilih kawan, sebab "agama seseorang itu" kata Rasulullah, "tergantung agama temannya, maka hendaknya salah seorang diantara kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman." Dan banyak lagi riwayat yang menerangkan kepada kita begitu pentingnya bersikap cermat dalam berteman sebelum apa yang terjadi terhadap pemuda dalam kisah berikut ini juga menimpa kita...
Dikisahkan bahwa ada sekelompok pemuda yang selalu berkumpul untuk melakukan perbuatan jahat, fasik, dan kemaksiatan. Sungguh mereka telah terbiasa melakukan berbagai kemungkaran seperti zina, minum miras, memakai obat-obatan dan berbagai keburukan lainnya.
Dengan idzin Allah, salah seorang diantara mereka ada yang terketuk hatinya untuk bertaubat dan kembali ke jalan Rabnya dengan menjaga shalatnya serta selalu berdoa agar Allah mengampuni dosa-dosanya.
Suatu hari, ia memantapkan hatinya untuk menemui kawan-kawan lamanya dan mengajak mereka untuk bertaubat serta mengingatkan mereka akan adzab Allah yang begitu pedih. Dia berusaha menjelaskan kepada temannya bahwa kesenangan yang sering mereka kejar nikmatnya hanyalah sementara, sedang siksaan pedih di hari akhir sedang menanti. Iapun sangat berharap agar ada salah seorang diantara mereka yang bertaubat melalui tangannya.
Namun setelah teman-temannya tau tentang kabar dirinya yang telah bertaubat, ternyata mereka malah marah besar. Bahkan mereka bertekat takkan bertaubat dan akan terus mengerjakan keburukan yang sudah menjadi rutinitas pemuda-pemuda itu.
Pemuda itupun sangat sedih melihat kondisi teman-temannya. Dengan kepala tertunduk ia keluar setelah mendengar penolahakan dari teman-temannya. Adapun kawan-kawannya, setelah ia keluar, ternyata mereka malah memikirkan cara agar bagaimana temanya yang telah taubat tadi, bisa kembali ikut bersama mereka dalam kemungkaran. Sungguh setan telah membutakan hati mereka dan memalingkan mereka dari cahaya iman.
Setelah berlalu beberapa hari dari pertemuan itu, hape si pemuda yang telah kembali merasakan manisnya iman terdengar berdering. Setelah ia angkat, ternyata salah seorang kawan lamanya yang menelpon.
"Halo.... Bagaimana kabarmu?" kata temannya mengawali percakapan.
Sebenatrnya ia tak mau menjawab telepon dari temannya itu setelah mereka menolak ajakannya kemarin. Namun karna ia penasaran apa gerangan yang membuat temannya menelpon, akhirnya ia jawab:
"Alhamdulillah, Baik"
"Maaf, kami betul betul minta maaf atas apa yang telah kami katakan kepadamu. Setelah kami merenungkan apa yang kau sampaikan kemarin, rasanya kami ingin bertaubat dengan penuh ikhlas. Dan kami juga ingin mengajakmu bersafar bersama kami karna selah seorang teman kita ada yang ingin membeli mobil di negara tetangga. Lagian, keberadaanmu bersama kami akan menjauhkan kami dari mengulangi perbuatan mungkar yang sudah terbiasa kami lakukan. Kamu juga bisa senantiasa menasehati kami untuk selalu mengingat Allah... Pokoknya keberadaanmu bersama kami pasti sangat membantu!"
Sahabat kita yang satu ini sangat senang mendengar kabar bahwa kawan-kawanya juga telah bertaubat. Tapi sayang, ia sama sekali tidak tau tentang niat jahat mereka.
"Oke... saya siap ikut bersama kalian," Jawabnya mantap "Tapi... kapan kita akan berangkat?"
"Dalam waktu yang dekat..." Jawab temannya mengakhiri perbincangan mereka.
Tibalah hari yang telah mereka sepakati. Sahabat kita yang sedang ditipu ini bersiap untuk pergi ke negara tujuan. Setelah tiba disana, teman-temanya menyewakan apatemen lalu mereka menyuruhnya untuk beristirahat disitu, adapun kawan-kawannya, mereka berkata bahwa ada beberapa keperluan yang akan mereka urus terlebih dahulu. Duduklah sahabat yang lugu ini di apartemen itu sendirian.
Di tempat lain, ternyata kawan-kawnanya malah pergi ke penginapan yang telah mereka sewa lebih awal. Disana, hampir segalah kemakisatan kembali mereka kerjakan. Setelah mereka sedikit merasa puas dengan kemaksiatan itu, dipanggillah salahseorang wanita panggilan lalu kemudian mereka suruh ke apartemen yang ditempati teman mereka yang lagi sendirian. Perempuan itu juga telah mereka iming-imingi imbalan yang besar jika ia mampu menggoda sahabat mereka itu.
Lihatlah bagaimana setan telah menjadikan indah segala kemaksiatan di mata mereka... Lihatlah bagaimana seten telah memalingkan mereka dari cahaya keimanan sehingga mereka sendiri tega menjerumuskan teman mereka -yang menginginkan kebaikan terhadap diri mereka- untuk kembali kepada keburukan.
Mereka pun pergi ke apartemen itu. setelah sampai, mereka memasukkan perempuan yang tadi mereka sewa dengan segala riasannya yang begitu menggoda, lalu ,mereka mengunci pintunya.
Dia (perempuan jalang) mulai merayunya untuk menenggak miras, lalu saat pemuda baik itu mabuk, jatuhlah ia kedalam kemaksiatan besar (zina) bersama perempuan suruhan kawan-kawannya. La hawla wala kuwwata illa billah.
Keesokan harinya, setelah semuanya terjadi, setan-setan dalam bentuk manusai ini menelpon wanita surhan mereka untuk mengetahui kabar temannya. Dan alangkah senangnya mereka ketika wanita itu berkata bahwa apa rencana mereka berhasil dan sahabat mereka sekarang sedang terlelap tidur.
Orang-orang bejat ini segera bergegas menuju apartemen temannya dengan perasaan yang begitu senang, bagiamana tidak, mereka telah berhasil untuk membawa teman mereka kembali kepada kemaksiatan dan zina... Setelah tiba di apartemen, mereka segera masuk kedalam kamar ingin mengejek dan mempermalukan temannya itu. Sambil tertawa mereka mencoba membangunkannya, namun ia sama sekali tidak bergerak. Melihat itu, mereka pun menyibak selimut tidurnya dan ah.. ternyata ia sama sekali tidak berpakaian lagi. Tambahlah suara tawa mereka menjadi semakin keras. Namun semuanya berubah ketika sesaat kemudian mereka baru menyadari bahwa teman mereka yang malang ini telah MATI... Ya. dia telah MATI.
Lihatlah betapa buruk akhir hidup saudara kita yang satu ini... Lihatlah perbuatan buruk teman-temannya yang telah menenggelamkannya kedasar keburukan.. sungguh mereka telah membawanya dari jalan kebaikan menuju kebinasaan.
"Permisalah teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi dapat memberimu minyak wangi atau kamu bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engakau tetap mendapan bau harum darinya. Adapun pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapat bau asap yang kurang sedap." HR. Bukhari dan Muslim.
"Sahabat yang buruk itu seperti nyamuk yang akan menghisap darahmu tanpa engkau ketahui, dan kamu baru merasa sakit setelah ia menghisap darahmu."
Sabtu, 02 April 2016
Hati isi iman bertabur takwa
Jumat, 01 April 2016
Kisah: Sepotong Senyum dan Secangkir Teh
Keesokan harinya, OB itu mendatangiku sambil berujar bahwa dia sangat heran melihat pertama kalinya ada seorang guru yang memandangnya dengan senyuman, bahkan memberikannya segelas teh. "Seperti ada yang aneh," katanya.
Aku berkata dengan malu: "Aku ingin memuliakanmu karena kami adalah Muslim dan beginilah akhlak kami."
Dia berkata: "Aku bekerja disini sudah hampir dua tahun, namun tak pernah kudapati ada diantara kalian yang berbicara kepadaku walau sepatah kata pun!" Kemuadian ia kembali iberkata," Sebenarnya aku membawa Ijazah Magisterku di bidang Sains, namun karna aku sama sekali tidak memiliki apa-apa dan aku sangat memerlukan pekerjaan akhirnya aku rela menerima perkerjaan ini."
Tentu saya tidak serta merta percaya dengan apa yang ia katakan mengenai ijazahnya, makanya ku undang ia kerumah agar aku bisa mengetesnya. Aku memiliki seorang anak yang sudah kuliah yang kebetulan mengambil jurusan yang berkenna dengan Sains, maka ku suruh ia bertanya kepada OB itu -tentunya dengan berbahas ingris- dan hasilnya dia mampu menjawab pertanyaan putriku dengan sangat fasih dan benar.
Begitulah awal perkenalan kami...
Setiap hari jumat ia datang berkunjung kerumahku,lalu kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk memeluk islam. Bhakan dia dapat meyakinkan 20 rekannya yang lain untuk ikut masuk islam. Apa sebabnya? Hanya sepotong senyum dan secangkir teh.
"Janganlah kamu memandang remeh apapun dari kebaikan, meski kamu hanya bertemu dengan saudaramu dengan wajah tersenyum."Begitulah ungkapan dari Baginda Muhammad shallahu alaihi wa sallam yang menganjurkan kita untuk selalu tersenyum kepada saudara kita. Sebuah kebaikan yang mungkin kita anggap enteng dan kita remehkan namun dampaknya sungguh luar biasa.
- Ketika langit suram tak berwarna, maka tersenyumlah kara wajah yang kecut hanya akan menambah gelapnya mendung.
Selasa, 29 Maret 2016
Bagaimana Memandang Perbedaan!
Dalam tulisan ini, saya akan berusaha untuk memberikan sedikit tips renyah yang bisa kita praktekkan dalam mencairkan masalah perbedaan pendapat atau pandangan. Sebelumnya bacalah cerita berikut ini...
Dikisahkan bahwa ada tiga orang buta yang dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya ada seekor gajah. Ketiga-tiganya diminta untuk mencaritau bagaimanakah gajah itu lalu nantinya mereka akan diminta untuk menjelaskannya.
Mulailah satu persatu diantara mereka meraba tubuh gajah untuk mengetahui bentuknya. Si A berkata: Gajah itu empat tiang besar yang berdiri tegak!
Si B berkata: Gajah itu hampir sama persis dengan ular..
Dan si C berkata: Gajah itu seperti sapu..
Ketika mereka mendapati semua pendapat berbeda, mulailah mereka berdebat dan saling menuduh bahwa pendapat fulan dan fulan cuman bohong belaka. Tidak ada yang ingin menerima pendapat antara satu sama lain. Semua teguh dengan pendapat yang mereka hasilkan dari penelitiannya tadi.
Kalau kita perhatikan, si a memegang kaki gaja, si b memegang belalai gajah, dan si c memegang ekornya. Setiap mereka berpegang teguh kepada pendapatnya masing-masing tapi apakah ada yang mencoba menoleh kepada pendapat yang lain?
Dari kisah diatas kita akan mengambil kesimpulan bahwa tidak ada yang salah. Semuanya benar. Bukan begitu?
Kebanyakan dari kita memandang suatu masalah hanya dari satu sisi saja, sehingga pendapat yang muncul dibenak kita pun hanya satu saja dan kita rasa itulah yang paling benar dan tepat. Rasa ego untuk menerima pendapat orang lain juga akan muncul dengan sebeb seperti ini.
Untuk menghindari timbulnya pertikaian atau kesalah pahaman saat kita menemui sebuah perbedaan, mohon baiknya agar memperhatikan hal-hal berikut:
Sikap toleran terhadap perbedaan pendapat
Perbedaan pendapat tidak hanya terjadi pada kalangan awwam saja, melainkan hal ini juga terjadi diantara kalangan para ulama. Namun kalau kita perhatikan, begitu indah mereka mensikapi perbedaan yang mereka temui. Bahkan Imam Asy- Syafii penah berkata:
"Perkataanku benar, namun memeiliki kemungkinan untuk salah.Sedangkan perktaan orang lain salah tapi memiliki kemungkinan untuk benar."Mereka para Ulama, mampu mengedepaankan sikap objektivitas serta sikap kedewasaan mereka yang tinggi, sehingga perbedaan yang mereka temui akan dilaluinya tanpa ada masalah sedikitpun. Beginilah seharusnya cara pandang kita agar tidak timbul hal-hal yang kita tidak ingikan saat mendapati perbedaan pendapat.
Menyampaikan pendapat dengan cara yang santun
Perlu kita perhatikan bahwa setiap manusia tentu tidak suka dengan segala hal yang bersifat paksaan atau tekanan. Jadi tatkala kita mengemukakan suatu pendapat yang ternyata bertentangan dengan pendapat orang lain, baiknya kita menyampaikan pendapat yang kita miliki dengan sopan penuh santun, serta menghindari cara penyampaian yang bernada paksaan karna barang pasti mereka yang mendengarkannya takkan menerima apa yang kita sampaikan.
Senin, 28 Maret 2016
Kapan Sabar Dikatakan Sabar?
- Bersabar dalam ketaatan kepada Allah
- Bersabar saat ditimpa musibah
- Bersabar untuk tidak melakukan kemaksiatan
Beliau bersabda:
Dari Abu Hurairah r.a. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Tujuh golongan, Allah akan menaungi mereka pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya: Pertama : Imam (pemimpin) yang adil. Kedua : Pemuda yang membesar dengan beribadah kepada Allah. Ketiga : Insan yang hatinya terpaut dengan masjid. Keempat : Dua insan yang berkasih sayang kerana Allah, mereka bertemu dan berpisah kerana Allah. Kelima : Insan yang diajak (digoda) oleh wanita yang berpangkat dan cantik, lalu ia berkata : ‘Sesungguhnya aku takutkan Allah’. Keenam : Insan yang bersedekah dengan cara yang tersembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang di belanjakan oleh tangan kanannya. Ketujuh : Insan yang mengingati Allah secara bersunyian lalu menitiskan air matanya.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Jumat, 25 Maret 2016
Sifat Kikir Itu Turun Temurun
"Nak! Aku kedatangan tamu yang mulia kedudukannya dimataku, pergilah kau ke pasar dan belilah setengah kilo daging yang paling bagus kualitasnya."
Anaknya pun segera pergi dan setelah beberapa lama ia kembali tanpa membawa suatu apapun.
Sambil heran ayahnya bertanya, "Mana daging yang aku pesan?"
Anaknya menjawab, "Aku telah pergi ke penjual daging. Aku katakatan kepadanya: berikan kepadakau setengah kilo daging yang paling bagus yang kalian miliki! Dia menjawab: Aku akan memberikanmu daging yang
Hidup Harus Sesadar Seorang Penyelam
Hidup itu bagai lautan dalam yang sangat luas. Jika Anda ingin menyelaminya dan menikmati keindahan yang ada didalamnya, Anda harus mempersiapkan persiapan yang matang. Jika seorang penyelam saja begitu sadar mempersiapkan segalanya sebelum ia terjun menyelami indahnya lautan dari menyiapkan tabung gas sebagai alat pembantu pernapasannya, juga baju renang elastis untuk memudahkan pergerakannya saat berenang, dan sepatu katak untuk memudahkan mobilitasnya. Maka tentu sebagai seorang muslim, kita harus lebih siap lagi dari seorang penyelam untuk bisa selamat menyelami kehidupan ini.Yang kita persiapkan adalah kesadaran, yah, sebuah kesadaran yang akan membedakan kita dengan seseorang yang lagi tenggelam. Kesadaran akan menjadikan kita seseorang yang lebih peka terhadap apa yang terjadi, membuat kita lebih berfikir cerdas dari yang lain, dan tentunya kesadaran akan menjadi hijab antara kita dengan kesalahan yang memang harus kita hindari. (
Alkisah, seekor harimau berburu ke sebuah lembah yang dipenuhi zebra. Ketika singa itu sudah sampai dan terlihat oleh buruannya, semua zebra pun berlari menjauh kecuali seekor saja. Zebra yang satu ini tetap berdiri tegap, bahkan ia malah maju ke arah singa. Heranya, singa itu malah menghindar lari. Melihat sang pemburu mundur, si zebra merasa bahwa ia telah menakuti singa itu. Semakin zebra maju, semakin mundur pulalah sang singa. Sampai zebra itu mempercepat langkahnya, bahkan ia berlari ke arah singa dan singa pun lari menghindar.
kawanan singa tertawa mendengar pertanyaan si zebra yang malang, lalu salah satu diantara mereka menjawab," aku taruhan bersama teman-teman singaku yang lain untuk mendatangkan makan siang hari ini kehadapan mereka secara Deliveri."
Singa tetaplah singa, dan zebra tetaplah zebra
Rabu, 23 Maret 2016
Kadang Kesalahan Orang Lain lebih Jelas Terlihat
Suatu hari, Laki-laki yang belum terlalu lama menikah dengan sepupunya itu merasa bahwa pendengaran istrinya mulai melemah. Dia memutuskan untuk berkonsultasi dengan salah seorang dokter.
"Ada satu cara yang ku rasa paling ampuh untuk memastikan pendengaran istrmu masih normal atau sudah melemah!" kata dokter sembari memberi saran. " Berdirilah 50 langkah dari istrimu lalu berbicaralah kepadanya dengan suara yang tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil,jika ia tak menjawabmu maka mendekatlah samapi kau berada 40 langkah darinya, namun jika ia masih tetap belum mendengarkanmu, mendekatlah sampai kau berada 20 langkah darinya. Jika ia belum juga mendengarmu, mendekatlah sampai kau berada 10 langkah darinya, akan tetapi jika hasilnya masih saja begitu, berdirilah dibelakangnnya dan ulangi kalimat yang sama. Dengan ini kau bisa memastikan kukuatan pendengaran istrimu!"
Laki-laki itu pun segera pulang dan mengerjakan apa yang disarankan oleh dokter. Di rumah, ia mendapati istrinya sedang memasak di dapur. Maka dia pun menjauh 50 langkah dari istrinya lalu berkata dengan suara yang sedang, "Kekasihku, apa sedang kau masak untuk makan siang kita?"
Istrinya tidak menjawab..
Dia pun medekat sampai ia berada 40 langkah dari istrinya kemudia kembali mengulangi kalimat yang sama.Namun istrinya juga tidak menjawab. kemudian ia berdiri dari jarak 20 langkah... lalu dari jarak 10 langkah, akan tetapi istrinya juga tidak menjawab. Ketika ia sudah berada tepat dibelakang kekakasihnya yang sedang menyiapkan makan siang, ia kembali berkata, "Kekasihku, apa sedang kau masak untuk makan siang kita?"
Istrinya menoleh sembari berkata,"Ini sudah yang kelima kalinya aku katakan Ayam panggang!"
hahahaha......
Ternyata siapa yang tuli?
Dari kisah ini kita dapat memetik sebuah kesimpulan bahwa "tak layak bagi kita untuk merasa selalu benar. Terkadang kesalahan itu tepat berada pada diri kita namun rasa ego yang begitu tinggi menghalangi kita untuk melihat kesalahan itu. Malah kesalahan itu terlihat pada orang lain."
Ada pepatah yang mengatakan: Semut di sebrang pulau jelas terlihat, namun gajah (tai mata) dipelupuk mata sama sekali tak terlihat.
- Silahkan bagikan (copy-paste) tulisan ini jika anda merasa bahwa didalamnya terdapat faedah atau kebaiakan.
<br>kisah inspiratif
Senin, 21 Maret 2016
Kisah: Lelaki Yang Mati Membawa Obsesi Yang Besar
Minggu, 20 Maret 2016
Kapan Kamu Harus Melompat
Hikmah ♡
Sebenarnya kenapa katak itu bisa mati? Mungkin kebanyakan dari kita akan menjawab "air mendidihlah yang telah membunuhnya!" Bukan...! bukan itu sebabnya. Sebenarnya katak itu mati karna ketidakmampuannya mengambil keputusan kapan ia harus melompat dari kuali itu.
Sabtu, 19 Maret 2016
Antara jati diri dan harga diri
Pergolakan zaman tak jarang membawa arus yang berdampak buruk. Ketika zaman terus berputar maka arusnya selalu menghanyutkan. Cobalah perhatikan betapa banyaknya manusia yang sadar atau tidak, mereka telah hanyut dengan arus menghanyutkan ini. Kehilangan jati diri sekaligus harga diri.
Sekarang adalah zamannya modernisasi, dari hal kecil sampai hal yang besar banget semuanya tak luput dimodernisasikan. Bahkan agama sekalipun. Kalau dulu kita cuman tau model jilbab yang sederhana saja; tanpa pernik tanpa hiasan, maka zaman ini itu semua sudah berubah. Model jilbab dari hari ke hari semakin bertambah; ada yang melilit-lilit bak ular piton, ada yang terlihat kaya pot ada bunganya, atau model-model lainnya yang sama anehnya.
Itulah sedikit gambaran tentang agama yang ikut di modernkan. Kata mereka sih, "biar islam gak ketinggalan jaman." Hehehehe.... tanpa anda rubah pun islam akan selalu sesuai dengan zaman.
Kalau sedikit kita telisik tentang jati diri dan harga diri anak muda zaman sekarang, kita akan dapati mereka dalam keadaan mabuk -maaf, yang saya anggap mabuk disini bukan kerana minuman, akan tetapi mabuk krn akal mereka kacau tak bisa berfikir jernih. Semua tren yang diimpor dari Dunia Barat tak ada satupun yang luput untuk mereka santap, semuanya dilahap habis. Sampai hal yang merusakkan harga diri dan jati diri sekalipun tak menjadi masalah bagi mereka untuk tetap diikuti. "Yang penting keren dan sesuai tren," mungkin begitu pikir mereka.
Kalau ada tren yang lagi laku, meski itu dibuat oleh sekumpulan orang konyol, ada saja yang tak mau ketinggalan untuk ambil bagian. Akhirnya apa? Harga diri rusak dan jati diri hilang entah kemana.
Sekarang ada tren anak muda yang menurut saya konyol stadium 4. Kalau Anda punya instagram atau facebook, mungkin Anda pernah melihat sekumpulan remaja dan remaji yang melakukan hal konyol di zebra cros (tanda penyebrangan). Mereka mengambil foto dengan gaya yang berbeda-beda; dari gaya jinni o jinni, tiduran, bahkan sampai gaya orang shalat. Parahnya, mereka melakukan itu semua tatkala lampu merah sedang menyala dan para pengendara berhenti. Tanpa rasa malu atau canggung sedikitpun anak-anak muda yang kehilangan jati diri ini melakukan itu semua didapan khalayak ramai.
Saya sempat berfikir, bagaimana mungkin seseorang melakukan utu semua dengan keadaan sadar tapi tak malu sedikitpun? Tapi kemudian mulai mengambil kesimpulan bahwa mereka sebenarnya tanpa sadar sedang terjangkit arus zaman. Arus yang membuat seseorang kehilangan jati diri dan harga diri.
#Semoga generasi selanjutnya tak menjadi budak jaman yang akibatnya jadi alay tingkat akut.
Jumat, 18 Maret 2016
Pesan Cinta seorang Ibu kepada Anaknya
![]() |
Wahai anakku! Suatu hari nanti kau akan mendapatiku dalam keadaan tua renta, dimana aku tak mampu lagi untuk mengurusus segala keperluanku. Darinya, aku berharap engkau memberiku sebagian waktu dan kesabaranmu untuk memahamiku.
Ketika tanganku bergetar tak mampu memegang seusuatu, lalu tertumpah makan diatas dadaku, dan ketika aku tak mampu lagi mengganti bajuku sendiri, ku harap engkau betul-betul bersabar terhadapku.
Ingatlah dulu ketika aku mengajarimu tentang apa yang hari ini aku tak sanggup lagi mengerjakannya seorang diri! Ketika kau dapati diriku tak mampu lagi unutuk memperhatikan kebersihanku, tolong! jangan kau salahkan aku. Ingatlah ketika dulu aku selalu berusaha dan berusaha membuatmu terlihat bersih dan rapi.
Jangan kau tertawakan aku jika diriku terlihat bodoh dan tak paham dengan zaman kalian sekarang. Jadilah kau sebagai mata dan pikiranku untuk segala hal yang aku tak pahami. Bukankah dulu akulah orang yang selalu mengajarimu tentang adab dan berbagai ilmu sehingga hari ini engkau bisa menjadi seperti ini? Maka bagaimanakah kau akan menuntunku di masa tuaku ini tentang apa yang harus ku kerjakan dan apa yang harus ku tinggalkan?
Jangan kau bosan dengan lemahnya ingatanku serta lambatnya cara bicaraku saat berbicara denganmu karena kebahagiaanku sekarang adalah saat kita sedang bercakap! Kebahagiaanku hanya ketika aku membutuhkan sesuatu dan kau mengerti apa yang aku butuhkan.
Jika kakiku tak mampu lagi menopang diriku untuk pergi ke suatu tempat yang aku inginkan, aku harap engkau ada untuk menjadi penopangku dan aku sangat berharap engkau membawaku dengan penuh kelemah-lembutan. Tidakkah kau ingat bahwa akulah dahulu yang selalu membawamu kemana-mana? akulah yang selalu ada disisimu untuk mengajarimu cara berjalan diwaktu kecilmu dulu, esok pun kau akan mencari siapa yang akan menuntunmu diusia tuamu nanti.
Ketahulah! hidupku takkan lama lagi, mungkin ajal tak lama lagi akan mendatangiku.
Terakhir....
JIka kau mengingat suatu kesalahan tentangku, pahamilah bahwa aku tak pernah menginginkan sesuatu untukmu kecuali kebaikan saja. Dan sebaik-baik apa yang kau lakukan unutkku sekarang adalah memaafkan segala kesalahanku dan menutupi segala keburukanku.
Sungguh tawa dan senyummu masih selalu membuatku senang, maka jangan engkau larang aku unutk terus bersamamu. Aku dahulu bersamamu saat kau dilahirkan, jadi aku berharap aku pun masih bersamamu ketika kematian datang padaku.
Kamis, 17 Maret 2016
Luka Yang Tak Pernah Sembuh dari Anak Raja Yang Terdzolimi
Sudah menjadi adat para Khalifah terdahulu mengamanahkan kepada seorang alim(guru) untuk mendidik anak-anak mereka. Alim ini diberi kepercayaan sepenuhnya atas segala hal yang bersangkutan dengan proses belajar mengajar anak sang khalifah.
Dikisahkan bahwa dahulu ada seorang Raja yang termasuk dari raja-raja yang shaleh dan adil. Dia mempunyai seorang anak yang masih kecil. Raja ini ingin anaknya belajar, lalu ia datangkan seorang Guru untuknya. Pengajar ini pun telah diberi keleluasaan dalam mengajar anak sang raja.
Pada suatu hari, sang guru bertanya kepada pangeran kecil, "apakah kau telah menyelesaikan semua tugas yagn telah ku berikan untukmu?"
Pangeran kecil menjawab dengan penuh adab, "Tentu wahai guru!"
Namun tiba-tiba dengan cepat bak angin yang datang berhembus tanpa disangka, tangan sang guru mendarat di pipi pangeran kecil yang membuatnya jatuh tersungkur.
Dalam benak pangeran bertanya-tanya,"Mengapa ia menamparku? Apa yang telah ku lakukan? Bukankah aku telah mengerjakan apa yang guru perintahkan?" Namun karena ia menjaga adabnya, pangeran kecil tak sampai menyampaikan rasa herannya kepada sang guru. Ia hanya bertanya-tanya dalam hati.
Berlalu 30 tahun sejak kejadian itu, Pangeran yang dulunya kecil sekarang sudah tumbuh besar dan menjadi pengganti ayahnya menjadi seorang raja. Di hari pertamanya duduk di singgasana ayahnya, ia tiba-tiba teringat dengan guru dzalim yang telah menamparnya tanpa sebab sewaktu ia masih kecil. Segera ia berseru kepada para prajuritnya,
"Wahai sang hakim..."
"Iya, yang mulia?"
"perintahkanlah prajuritmu untuk mendatangkan guru yang telah mengajariku dalu, secepatnya!"
"Baik, Yang Mulia."
"Datangkan juga algojo (tukang penggal) secepatnya!"
"Baik, Yang Mulia."
Maka datanglah sang guru yang sekarang sudah sangat tua, bersamaan dengan itu, datang pula si algojo yang sudah bersiap-siap mengerjakan tugasnya.
"Apakah kamu tau apa sebabnya aku memanggilmu kesini?"
"Ya, wahai Yang Mulia."
"Kenapa kau lakukan apa yang kau perbuat hari itu kepadaku,? Tanya sang raja mengintrogasi.
"Haaaaaaa? 30 tahun berlalu namum kau belum juga lupa terhadap tamparan itu?" kata guru dengan penuh hikmah, "sungguh pada saat itu, aku hanya ingin agar engkau merasakan yang namanya rasa sakit terdzlimi, hingga ketika kau menjadi raja kelak, kau sudah tau persis rasanya. Dan kau tidak akan mendzalimi siapapun."
"Ya, Allah...Apakah itu sebabnya kau lakukan apa yang kau lakukan padaku? Pergilah.. sungguh aku telah memaafkan apa yang kau telah perbuat kepadaku. Dan aku akan bersyukur sepanjang hidupku kepadamu atas apa yang telah kau lakukan padaku dulu."
Hikmah yang dapat dipetik:
- Kadang kala kita menilai sesuatu hanya pada dzahir (apa yang nampak) saja, tanpa berusaha menyelami apa makna yang tersirat didalamnya
- Sungguh kedzaliman tak seharusnya dibalas dengan kedzaliman pula. Karena memaafkannya adalah hal yang lebih baik dan utama.
- "Kedzaliman adalah kegelapan pada hari kiamat,"Hadits Nabi.
#kisah ini diterjemahkan langsung dari bahasa arab.
untuk versi arabnya, silahkan klik disini











